BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penghematan
energi dan penggunaan sesuai kebutuhan mutlak diperlukan. Guru Besar
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 1945 Surabaya, Djoko Sungkono, Rabu
(27/7/2011), menjelaskan, menurut para ahli minyak bumi, gas alam, dan
batu bara yang dikatakan sebagai bahan bakar fosil diperkirakan akan
habis 30 tahun lagi, bahan bakar gas habis dalam kurun waktu 70-80
tahun, dan bahan bakar padat 120 tahun lagi. Sehingga diperlukan
penghematan untuk bahan bakar fosil, tetapi jika kebutuhan akan bahan
bakar juga banyak bagaimana cara mengatasinya.
Salah
satu cara mengatasi krisis energi bahan bakar fosil ini yaitu
menggunakan energi alternatif, dimana energi alternatif yang dapat
diperbarui dan banyak tersedia di alam. Salah satu alternatif cara yaitu
menggunakan bahan bakar nabati. Dimana nabati berasal dari tumbuhan
yang selalu dapat diperbarui dan banyak tersedia di alam, apalagi di
indonesia yang memiliki berbagai macam tumbuhan dan energi alternatif
lain.
Bahan
bakar yang sering digunakan saat ini adalah solar dimana sekarang ini
masih banyak tersedia di alam, tetapi bagaimana beberapa tahun lagi.
Alasan inilah yang membuat penulis mengambil topik ini. Dimana banyak
kabar yang tersiar bahwa solar dapat diganti dengan alternatif bahan
bakar lain yang lebih banyak keberadaanya di alam dan dapat diperbarui.
Dan
membuat penulis ingin mengetahui apakah benar adanya bahwa terdapat
alternatif bahan bakar lain pengganti behan bakar diesel yang banyak
terdapat di alam dan dapat diperbarui.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah ada energi pengganti bahan bakar fosil?
2. Apakah dampak energi fosil?
3. Tumbuhan apa yang dapat diman faatkan sebagai anergi alternatif pengganti bahan bakar fosil tersebut?
4. Bagaimanakah cara mengolahnya agar dapat dimanfaatkan?
5. Apa manfaatnya?
1.3 Tujuan
1. Agar pembaca mengetahui bahwa energi fosil dapat habis.
2. Agar pembaca mengetahi dampak energi fosil.
3. Agar pembaca mengetahui bahwa terdapat energi lain di alam yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar fosil.
4. Dan agar pembaca dapat mengetahui cara pengolahan energi alternatif tersebut agar dapat dimanfaatkan
5. Agar dapat mengetahui manfaat energi alternatif ini.
1.4 Manfaat
1. Pembaca dapat mengetahui dampak energi fosil secara berlebihan.
2. Pembaca dapat mengetahui bahwa energi alternatif di alam dapat dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar fosil.
3. Pembaca dapat mengetahui cara pengolahan bahan bakar alternatif tersebut.
4. Dan pembaca dapat mengetahui cara menghemat bahan bakar fosil agar tidak segera habis.
5. Pembaca dapat mengetahui manfaat energi alternatif ini.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Bahan Bakar Fosil
Bahan bakar fosil, adalah sumber daya alam yang mengandung hidrokarbon seperti batu bara, petroleum, dan gas alam. Penggunaan bahan bakar fosil ini telah menggerakan pengembangan industri dan menggantikan kincir angin, tenaga air, dan juga pembakaran kayu atau peat untuk panas.
Ketika menghasilkan listrik, energi dari pembakaran bahan bakar fosil seringkali digunakan untuk menggerakkan turbin.
Generator tua seringkali menggunakan uap yang dihasilkan dari
pembakaran untuk memutar turbin, tetapi di pembangkit listrik baru gas
dari pembakaran digunakan untuk memutar turbin gas secara langsung.
Bahan bakar fosil oleh manusia merupakan sumber utama dari karbon dioksida yang merupakan salah satu gas rumah kaca yang dipercayai menyebabkan pemanasan global. Sejumlah kecil bahan bakar hidrokarbon adalah bahan bakar bio yang diperoleh dari karbon dioksida di atmosfer dan oleh karena itu tidak menambah karbon dioksida di udara.
Dampak Terhadap Udara dan Iklim.
selain menghasilkan energi, pembakaran sumber energi fosil (misalnya:
minyak bumi, batu bara) juga melepaskan gas-gas, antara lain karbon
dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx),dan sulfur dioksida (SO2) yang
menyebabkan pencemaran udara (hujan asam, smog dan pemanasan global).
Emisi
NOx (Nitrogen oksida) adalah pelepasan gas NOx ke udara. Di udara,
setengah dari konsentrasi NOx berasal dari kegiatan manusia (misalnya
pembakaran bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik dan transportasi),
dan sisanya berasal dari proses alami (misalnya kegiatan mikroorganisme
yang mengurai zat organik). Di udara, sebagian NOx tersebut berubah
menjadi asam nitrat (HNO3) yang dapat menyebabkan terjadinya hujan asam.
Emisi
SO2 (Sulfur dioksida) adalah pelepasan gas SO2 ke udara yang berasal
dari pembakaran bahan bakar fosil dan peleburan logam. Seperti kadar NOx
di udara, setengah dari konsentrasi SO2 juga berasal dari kegiatan
manusia. Gas SO2 yang teremisi ke udara dapat membentuk asam sulfat
(H2SO4) yang menyebabkan terjadinya hujan asam.
2.2 Energi Alternatif
Energi alternatif adalah istilah yang merujuk kepada semua energi yang dapat digunakan yang bertujuan untuk menggantikan bahan bakar konvensional tanpa akibat yang tidak diharapkan dari hal tersebut. Umumnya, istilah ini digunakan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar hidrokarbon yang mengakibatkan kerusakan lingkungan akibat emisi karbon dioksida yang tinggi, yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global berdasarkan Intergovernmental Panel on Climate Change.
Selama beberapa tahun, apa yang sebenarnya dimaksud sebagai energi
alternatif telah berubah akibat banyaknya pilihan energi yang bisa
dipilih yang tujuan yang berbeda dalam penggunaannya.
alternatif yang diinginkan adalah energi alternatif yang memiliki kriteria sebagai berikut.
- Penggunaan energi alternatif ini dapat digunakan berulang-ulang
- Energi alternatif yang dipilih jumlahnya sangat berlimpah di alam.
- Pengolahannya tidak merusak alam.
- Tidak berbahaya, aman, serta tidak menimbulkan berbau penyakit akibat pengolahan atau penggunaan energi alternatif tersebut.
- Tidak adanya dalam bentuk apapun yang sifatnya merusak alam atau dengan kata lain energi alternatif tersebut ramah lingkungan.
2.3 Tanaman Jarak Sebagi Energi Alternatif
Dan
salah satu energi yang banyak terdapat di alam yaitu tumbuhan, diman
tumbuhan banyak terdapat di alam dan dapat terus diperbarui. Tanaman
jarak penghasil biodiesel ini berasal dari jenis tanaman jarak pagar
yang dalam bahasa Inggris bernama ‘Physic Nut’ dengan nama species Jatropha curcas,
tanaman ini seringkali salah diidentifikasi dengan tanaman jarak yang
dalam bahasa Inggris disebut ‘Castor Bean’ dengan nama species Ricinus communis.
Kedua
tanaman ini berasal dari kerabat klasifikasi tanaman (family) yang sama
yaitu ‘Euphorbiaceae’. Tidak sedikit dari kerabat klasifikasi tanaman
Euphorbiaceae ini dikenal dengan nama lokal Indonesia sebagai tanaman
jarak. Bahkan Jatropha sendiri sebagai sebuah ‘genus’ dalam klasifikasi
tanaman memiliki 12 species, semuanya dikenal dalam nama lokal sebagai
‘tanaman jarak’.
Menjelang
pertengahan tahun 2004 yang lalu, DaimlerChrysler, salah satu
perusahaan otomotif terkemuka, berhasil mengujicobakan penggunaan bahan
bakar BTL (Biomass to Liquid) pertama di dunia pada mobil Mercedes-Benz
seri C (Mercedes-Benz C 220, red.), menempuh jarak 5.900 km dalan
kondisi lingkungan yang ekstrim di India (India Daily, 19/7/2004). Bahan
bakar tersebut kemudian diberi nama dagang SunDiesel, diperoleh dari
minyak jarak dan merupakan salah satu program DaimlerChrysler dalam
mengembangkan Biodiesel.
Manfaat
minyak jarak sebagai substitusi bahan bakar sebetulnya telah lama
diketahui. Misalnya melalui review yang dipublikasikan oleh Gubitz dkk
(1999) pada jurnal Bioresource Technology edisi 67, disebutkan bahwa
tahun 1997 grupnya di Austria, telah mempublikasikan hasil uji adaptasi
minyak jarak pada mesin diesel standar. Di dalam review tersebut juga
disebutkan bahwa jauh sebelum pengujian tersebut dilaksanakan, pada
tahun 1982, peneliti dari Jepang juga telah memperoleh hasil memuaskan
dalam menguji performansi mesin dalam menggunakan minyak jarak di
Thailand.
Pengembangan
minyak dari tanaman jarak melalui pendekatan ilmiah di Indonesia,
dipelopori oleh Dr. Robert Manurung dari Institut Teknologi Bandung
(ITB) sejak tahun 1997 dengan fokus ektraksi minyak dari tanaman jarak.
Sejak tahun 2004 yang lalu, penelitian ini mendapat dukungan dari
Mitsubishi Research Institute (Miri) dan New Energy and Industrial
Technology Development Organization (NEDO) dari Jepang (Kompas,
12/5/2005).
Menghadapi
krisis kelangkaan BBM dan kenaikan harga BBM di Indonesia, Pemerintah
mulai menggali sumber-sumber energi alternatif. Minyak jarak ini pun
mulai mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah. Setelah dirintis
oleh ITB kemudian diikuti oleh IPB, dan selanjutnya diikuti oleh lembaga
pemerintah pusat yaitu BPPT, dan oleh pemerintah daerah seperti
Pemprov. Nusa Tenggara Timur, Pemprov. Nusa Tenggara Barat, Pemkab.
Purwakarta dan Pemkab. Indramayu, serta oleh BUMN seperti PT. Pertamina,
PT. PLN dan PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), semua saling
bekerja sama untuk pengembangan minyak jarak sebagai bahan bakar minyak
alternatif ini. Tidak ketinggalan Sekolah Menengah Kejuruan bidang
pertanian pun akan mengikuti pengembangan minyak jarak ini, untuk bahan
bakar minyak alternatif.
Setidaknya
ada satu optimisme peluang pasar minyak jarak ini cukup terbuka dengan
munculnya pernyataan Direktur Utama Pertamina yang menyebutkan bahwa
Pertamina siap menampung minyak jarak dari masyarakat untuk diproses
lebih lanjut sebagai Biodiesel (www.pertamina.com , 18/8/2005). Bahkan
Jepang yang terikat komitmen Protokol Kyoto bersiap-siap membeli produk
energi alternatif dari minyak jarak ini.
2.4 Cara Mengolah
Proses
pengolahan minyak jarak untuk menghasilkan biodiesel relatif mudah.
Untuk menghasilkan minyak dalam skala kecil (0,5-0,6 ton perawatan hari)
cukup dengan mengepres biji jarak yang sudah kering menggunakan mesin
diesel satu silinder, sehingga menghasilkan minyak jarak kasardan
bungkil.
Tahap
selanjutnya adalah menyaring menggunakan mesin penyaring sehingga
dihasilkan minyak jarak bersih. Kemudian dilakukan proses pemurnian
terhadap minyak jarak yang sudah bersih sampai menghasilkan minyak jarak
murni yang siap dijual.
Biodiesel
yang diperoleh dari tanaman jarak berupa minyak jarak yang diperoleh
dari biji jarak. Menurut Tatang H. Soerawidjaya (2005:1) biodiesel yang
dihasilkan dari tanaman Jarak Pagar merupakan minyak lemak semimulus (semi refined fatty oil),
yang telah dibersihkan dari fosfor dan asam-asam lemak. Dalam hal ini
fosfor merupakan zat yang merugikan karena mesin diesel dapat mengubah
fosfor ini menjadi garam atau asam fosfat yang mengendap menjadi kerak
di dalam kamar pembakaran atau terbawa keluar sebagai pencemar udara
oleh emisi gas buang.
2.5 Manfaat Energi Alternatif Dari Tanaman Jarak
Keunggulan biodiesel dari tanaman jarak dibandingkan dengan solar. Menurut
Dody Hidayat (2005:1), dibandingkan dengan minyak solar, biodiesel
memiliki angka cetane yang lebih tinggi dan daya lumas yang lebih baik.
Minyak jarak pagar memiliki angka setana 51 sedangkan solar 45. Angka
setana (cetane rating) adalah tolak ukur kemudahan menyala/terbakar dari
suatu bahan bakar di dalam mesin diesel. Semakin tinggi angka setane
semakin aman emisi gas buangnya, karena bahan bakar dapat terbakar
dengan sempurna, sehingga kadar emisi gas sulfur (SOx), nitrogen (NOx)
dan karbon yang termasuk dalam gas-gas rumah kaca lebih rendah.
Selain
itu dalam membangkitkan tenaga listrik, biodiesel tidak memerlukan
genset baru karena minyak jarak dapat langsung digunakan pada genset
yang sudah ada.
Manfaat penggunaan biodiesel dari tanaman jarak terhadap lingkungan. Penggunaan
bahan bakar fosil telah meninbulkan berbagai dampak buruk bagi
lingkungan. Seperti meningkatnya kadar gas rumah kaca di atmosfer bumi.
Jika hal ini dibiarkan secara terus menerus, maka pemanasn global adalah
konsekuensi yang harus dihadapi oleh seluruh penduduk bumi.
Sebagai
salah satu sumber energi alternatif, Biodiesel dari tanaman jarak dapat
dikategorikan sebagai sumber energi ramah lingkungan. Karena menurut
Humas (2005:2), pembakaran mesin yang berbahan bakar biodiesel
menghasilkan emisi gas buang, asap dan partikel, yang lebih rendah.
Angka setane yang lebih tinggi dibandingkan solar membuat kadar emisi
gas karbon, nitrogen, dan sulfur lebih rendah.
Selain
itu, penggunaan biodiesel dari tanaman jarak pagar membuka kemungkinan
penanaman kembali lahan-lahan kritis yang ada di Indonesia. Menurut
Humas (2005:2), saat ini terdapat 13 juta hektar lahan kering di seluruh
Indonesia. Mengingat tanaman jarak pagar merupakan tanaman yang dapat
tumbuh di lahan keirng dan kurang subur,maka dengan menggunakan
biodiesel di Indonesia, lahan-lahan kering tersebut akan dapat ditanami
kembali.
Penanaman
kembali lahan-lahan kritis di Indonesia akan memberikan dampak yang
positif bagi lingkungan, karena akan membentuk suatu sumber penghasil
gas oksigen yang sangat penting bagi kehidupan, mengurangi pencemaran
oleh gas-gas rumah kaca, dan membentuk suatu benteng penahan banjir dan
longsor.
Manfaat penggunaan biodiesel dari tanaman jarak bagi masyarakat Indonesia di bidang ekonomi. Dengan
dihijaukannya kembali lahan-lahan kritis, berarti akan membuka lapangan
pekerjaan baru yang layak bagi masyarkat. Mereka dapat bekerja sebagai
petani yang menanam dan merawat tanaman-tanaman jarak yang akan
digunakan sebagai bahan baku biodiesel. Buah jarak yang dihasilkan
dijual kepada perusahaan yang mengolahnya menjadi biodiesel dengan harga
tertentu. Dalam hal ini peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam hal
penyediaan bibit dan penentuan harga minimum dari buah Jarak Pagar, agar
petani tidak dirugikan.
Jika
petani diberi hak mengelola tiga hektar lahan kering, dengan kerapatan
tanaman 2500 pohon per hektar dan produktivitas 10.000 kilogram biji per
hektar serta harga biji lima ratus rupiah per kilogram, setiap keluarga
petani akan memperoleh panghasilan satu juta dua ratus lima puluh ribu
per bulan hanya berasal dari penjualan biji jarak (Anonim, 2005:2).
Pendapatan ini dapat bertambah jika bagian lain dari tanaman juga
dimanfaatkan
Menurut
Humas (2005:2), dari tiga juta hektar lahan kering akan dihasilkan
92.000 barel minyak per hari. Untuk memnuhi lahan tersebut diperlukan
7,5 miliar bibit. Bila dari seluruh tanah tandus seluas 13 juta hektar
ditanami jarak, maka akan dihasilkan lebih dari 400.000 barel minyak per
hari. Dengan demikian kita akan mengehmat penggunaan devisa negara yang
biasa digunakan untuk mengimpor solar.
Dalam
Kompas (2005: 14), biaya produksi biodiesel tergolong murah, rata-rata
biaya produksinya antara 600 hingga 100 per liter. Harga jual netto
minyak jarak tersebut diperkirakan Rp. 1.400-Rp. 2.100 per liter, harga
ini jauh lebih murah jika dibandingkan dengan harga minyak saat ini.
Sehingga , pengolahan jarak menjadi biodiesel yang relatif mudah dapat
dilakukan dalam usaha skala kecil yang tidak membutuhkan modal yang
besar. Sehingga hal ini pun akan membuka lapangan kerja bagi masyarakat
Indonesia.
Potensi
lain adalah ekspor biodiesel ke berbagai negara maju yang saat ini
sedang gencar-gencarnya menekan emisi gas rumah kaca. Negara-negara maju
seperti Jerman, Amerika Serikat, dan Brasil saat ini juga sedang
mengembangkan penggunaan biodiesel. Jika Indonesia mampu mengembangkan
biodiesel dari minyak jarak dengan kualitas yang bagus, pasar
internasional terbuka untuk Indonesia.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Bahan
bakar fosil merupakan energi yang tidak dapat diperbarui dan
keberadaanya mulai berkurang sekarang ini, dan salah satunya adalah
solar, bahan bakar jenis ini memiliki banyak dampak bagi lingkungan
kita dan menyebabkan krisis energi bila digunakan berlebihan.
Salah
satu cara mengatasi masalah ini dengan menggunakan energi alternatif
yang dapat dimanfaatkan sebagai energi pengganti bahan bakar fosil ini.
Di indonesia banyak energi alternatif yang tersedia, dan salah satu yang
tersedia adalah tumbuhan yang bermacam-macam.
Tumbuhan
yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif pengganti solar
yaitu tanaman jarak pagar, yang dapat diolah menjadi biosolar dengan
proses proses yang relatif mudah.
Manfaat
dari energi alternatif ini cukup banyak, mulai dari ramah lingkungan,
tidak merusak dan dapat menjaga kelestarian alam, dan bermanfaat di
bidang ekonomi.
3.2 Saran
Penulis
merupakan seorang yang tidak lepas dari kesalahan, sehingga mash banyak
kekurangan dalam makalah ini, penulis berharap agar pembaca dapat
mengembangkan makalah ini dan memberi kritik agar lebih baik untuk waktu
kedepanSumber : http://farinlutvy.blogspot.com/2011/11/penggunaan-bahan-bakar-nabati-biosolar.html
0 komentar:
Posting Komentar