Kripik Dangke Ciri Khas Enrekang

on Rabu, 07 Januari 2015
        Dibantu Kemasan, Terkendala Pemasaran Menjadi penopang kuangan dalam
keluarga tidak saja bisa dilakukan oleh suami sebagai kepala keluarga. Istri pun
bisa berbuat maksimal dengan kemampuan yang diasah sejak dini. Salah satunya
yang dilakukan Rasna, dia memilih menjadi pengusaha kripik dangke. Walau
dengan penghasilan tidak pasti, namun dari hasil pengolahan dan penjualan kripik
dangkenya saat ini Rasna bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan tiga
anaknya hingga kuliah.
Enrekang.InfoPublik.
         HUJAN gerimis tidak menghalangi jadwal Rasna mengantar dagangan
kripik dangkenya. Siang itu dia harus mengantar pesanan ke Kantor Bupati
Enrekang yang menginginkan beberapa bungkus cemilan dangke racikan Rasna.
Model kripiknya terlihat sederhana dengan potongan kecil dan bergelombang.
Disisi kripiknya tampak sengaja dibuat bergerigi untuk mempercantik.
Dia memberi label dangkenya "Indo Dangke" dengan alasan lebih mudah
dikenal. Indo Dangke bisa diartikan sebagai ibu atau induk kripik dangke saat ini.
Tak heran sebab kripik yang dibuatnya sekarang menjadi tren dan diikuti sejumlah
pengusaha kecil lainnya di Enrekang.
          Saat dicicipi, kripik dangke ini terasa gurih. Tidak terlalu manis ataupun
asin. Rasanya juga tidak hambar namun begitu di ngemil sampai beberapa kali,
terasa tidak ingin berhenti untuk melanjutkan cemilan berikutnya. Ternyata
rahasia pembuatan kripik Indo Dangke ini ada pada komposisi pengolahannya.
Rasna yang dikenal sebagai pencetus kripik dangke pertama di Enrekang sejak
tiga tahun lalu itu membeberkan rahasinya dengan mengatakan harus
menggunakan minyak tertentu agar rasa kripik dangkenya tidak berubah dan
terasa menari-nari di lidah.
         "Saya pake minyak khusus merek Bimoli. Bukan minyak lain. Sebab
rasanya akan menyatu dengan adonan dangke dan beberapa bahan lainnya," kata
Rasna. Dia mengatakan mengolah bisnis ini cukup menggiurkan. Lantaran bisa
menggunakan semua hasil dangke yang ada di Enrekang.
Beda bila hanya mengandalkan penjualan dangke yang kadang rasanya
pahit. Dangke yang pahit biasanya tidak terlalu diminati pembeli. Sementara
untuk pembuatan kripik dangke tidak terlalu berpengaruh dengan rasa dangkenya.
Selama racikan minyak, tepung dan gulanya seimbang, maka rasa kripik dangke
dijamin merata dan bermain dilidah.
         Dengan satu biji dangke yang bisa didapat seharga Rp15 ribu, jika diolah
bisa menghasilkan sekira 20 bungkus kripik dangke kecil yang rata-rata dijual
seharga Rp5.000 perbungkus. Keuntungan yang didapat juga jauh lebih
signifikan. Tak heran bila saat ini, Rasna yang bersuamikan Yanno, guru SD di
Lebang Kecamatan Cendana ini bisa menyekolahkan ketiga anaknya hingga di
perguruan tinggi. Tercatat seorang anak Rasna bernama Muh Alwi Yaras saat ini
sebagai mahasiswa STMIK Makassar angkatan 2011 dan dua lainnya masingmasing
Nurul Fitra baru akan kuliah dan adiknya Maghfiratul Jannah tahun ini
segera melanjutkan pendidikan ke singkat SLTP.
        "Kalau berharap dari gaji suami memang ada tapi kecil. Hasil penjualan
kripik dangke bisa lebih besar dari pendapatan suami," tutur Rasna. Rasa kripik
dangke milik Rasna bisa lebih berkesan lantaran telah memiliki kemasan yang
menarik. Beberapa bulan terakhir dia sudah menjajakan kripik dangkenya dengan
kemasan moderen mirip kemasan snack dari pabrik-pabrik besar di tanah air. Itu
adalah bantuan kemasan dari Yayasan Halal Center milik Bupati Enrekang, Haji
La Tinro La Tunrung. Rasna menceritakan bahwa usahanya pernah sudah
dipasarkan secara reguler ke Makassar. Kripik dangke "Indo Dangke" asal
Enrekang sudah pernah lama bertengger di etalase sejumlah supermarket terutama
di Pasar Segar Makassar.
        Namun karena pelanggan yang berebutan dan sering bertengkar, maka
pengiriman dihentikan. Sejak saat itu, pasar kripik dangke menembus persaingan
snack di Makassar kembali redup. Untuk menumbuhkan kembali pasar kripik
dangke ke luar Enrekang, sejumlah pengusaha kripik dangke didaerah ini
membentuk Asosiasi Pengusaha Dangke Enrekang untuk lebih mengoptimalkan
usaha. Dalam pertemuan itu, sekira 19 orang pengusaha dangke yang didominasi
ibu-ibu ini sepakat menjaga komposisi pembuatan kripik ini harus sama antara
satu pengusaha dengan pengusaha lainnya. Agar kualitas dan cita rasanya bisa
dipertahankan.
       "Saat ini pemasarannya di Enrekang tidak berkembang. Hanya melayani pesanan
kantor-kantor. Kita berharap ada pembeli tetap dari Makassar dan daerah lainnya.
Apalagi karena kita sudah bikin Asosiasi," kata Rasna.
Dia menceritakan sebelumnya, dia dan sejumlah pengusaha kripik dangke
sudah mendapat bantuan dari Yayasan Halal Center dan Pemkab Enrekang
melalui Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Koperindag) berupa
kemasan kripik dangke yang lebih moderen sejak akhir tahun lalu. Namun
menurutnya kesulitan mereka sekarang lebih pada pemasaran hasil kripik tersebut.
Terlebih karena kemasan kripik yang dibantukan pemerintah itu mendapat respons
beragam dari sejumlah pelanggannya.
         Model kemasan yang tertutup rapat menyebabakan pembeli tidak bisa
melihat secara utuh tampilan kripik dangke didalamnya. Terkait harapan
pengusaha kripik dangke ini, Direktur Perusda Enrekang, Suapri Giffari mengaku
siap memfasilitasi pemasaran kripik dangke tersebut. Sebab bila berharap penuh
pada pemerintah menurutnya sudah beberapa lama sejak bantuan kemasan
diberikan, namun kondisi pemasaran kripik dangke ternyata belum berubah
signifikan.
         Menurut Suapri pangsa pasar kripik ini sebenarnya sangat terbuka bila
dikelola dengan profesional. Sisa keinginan pemerintah yang besar untuk
mendukung berkembangnya usaha ini di Enrekang. Apalagi ciri Enrekang saat ini
tidak bisa dilepaskan sebagai penghasil dangke yang sudah diakui ditanah air.
Teknis bantuannya menurut Suapri, Perusda yang akan mengelola mulai
dari kemasan, pengepakan hingga pemasaran. Pengusaha menurutnya sisa
membuat kripik dangke dengan adonan yang sama dalam jumlah yang dibutuhkan
pasar. "Kualitasnya harus dijaga. Antara pengusaha satu dengan yang lain harus
menggunakan adonan yang sama agar rasa kripik dangke ini tidak berbeda. Nanti
kami yang kelola mulai dari kemasan, pengepakan hingga pemasarannya," ujar
Suapri. (McEnrekang.Lubis.RM)
http://infopublik.org/read/42696/menguak-rahasia-kripik-dangke-enrekang.html

0 komentar:

Posting Komentar